Kamis, 14 Februari 2013

09-02-2013 :* {}

Harii yang sangatt menyebangkan buat aku :v

Saat itu waktu olahraga. Aku dihukum sama temen-temen gara-gara ngga pake baju Olahraga.
Malah pake baju Pramuka :v -_______-" Disuruh lari 10 Putaran. Capekk =w="
Terus olahraga deh.Sehabis olahraga itu Istirahat.
Aku lagi main Hape sama temen aku. Gea-Firda. Terus si Abang (Umar) datang. Tanpa aku mengetahuinya.
Terus dirangkul-rangkul gitu,Cerita-cerita,Poto-Poto.
Jam setengah 2. Abang jemput aku pulang. Ya allah,Romantis bangettt :* {}.
Makasihh :* ({})






 
Harii yang sangatt menyebangkan buat aku :v

Saat itu waktu olahraga. Aku dihukum sama temen-temen gara-gara ngga pake baju Olahraga.
Malah pake baju Pramuka :v -_______-" Disuruh lari 10 Putaran. Capekk =w="
Terus olahraga deh.Sehabis olahraga itu Istirahat.
Aku lagi main Hape sama temen aku. Gea-Firda. Terus si Abang (Umar) datang. Tanpa aku mengetahuinya.
Terus dirangkul-rangkul gitu,Cerita-cerita,Poto-Poto.
Jam setengah 2. Abang jemput aku pulang. Ya allah,Romantis bangettt :* {}.
Makasihh :* ({})






 
Baca Selengkapnya09-02-2013 :* {}

Rabu, 13 Februari 2013

Jangan Galau :) Allah Bersama Kita :)


Jangan Galau :).
Allah Bersama Kita !!



Zaman sekarang berbagai masalah makin kompleks. Entah itu komplikasi dari masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar, bingung karena ditinggal pergi oleh sang kekasih, ataupun masalah-masalah lain. Semuanya bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong, lemah atau merana.
“Galau!!” merupakan sebuah kata-kata yang sedang naik daun, di mana kata-kata itu menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Tak hanya laku di facebook atau twitter saja, bahkan di media televisi pun orang-orang seakan-akan dicekoki dengan kata-kata “galau” tersebut.
Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap insan.
...Jangankan kita manusia biasa, bahkan Rasulullah pun pernah mengalami keadaan keadaan galau pada tahun ke-10 masa kenabiannya...
Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang masyhur dengan ‘amul huzni (tahun duka cita) itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri yang sangat beliau sayangi, Khadijah bintu Khuwailid.
Sahabat Abu Bakar, ketika sedang perjalanan hijrah bersama Rasulullah pun di saat berada di dalam gua Tsur merasa sangat cemas dan khawatir dari kejaran kaum Musyrikin dalam perburuan mereka terhadap Rasulullah. Hingga turunlah surat At-Taubah ayat 40 yang menjadi penenang mereka berdua dari rasa kegalauan dan kesedihan yang berada pada jiwa dan pikiran mereka.
Jangan Galau, Innallaha Ma’ana!
Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami” (QS. At Taubah: 40)
Ayat di atas mungkin dapat menjadikan kita agar lebih merenungi lagi terhadap setiap masalah apapun yang kita hadapi. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan, maka hadapkanlah semua itu kepada Allah Ta’ala. Tak ada satupun manusia yang tak luput dari rasa sedih, tinggal bagaimana kita menghadapi kesedihan dan kegalauan tersebut.
...Allah telah memberikan solusi kepada manusia untuk mengatasi rasa galau yang sedang menghampiri jiwa...
Adakalanya, seseorang berada pada saat-saat yang menyenangkan, tetapi, ada pula kita akan berada pada posisi yang tidak kita harapkan. Semua itu sudah menjdai takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk makhluk-makhluk Nya.
Tetapi, Allah Ta’ala juga telah memberikan solusi-solusi kepada manusia tentang bagaimana cara mengatasi rasa galau atau rasa sedih yang sedang menghampiri jiwa. Karena dengan stabilnya jiwa, tentu setiap orang akan mampu bergerak dalam perkara-perkara positif, sehingga dapat membuat langkah-langkahnya menjadi lebih bermanfaat, terutama bagi dirinya lalu untuk orang lain.
Berikut ini adalah kunci dalam mengatasi rasa galau;
1. Sabar
Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).
Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi.
2. Adukanlah semua itu kepada Allah
Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:
“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).
...ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita...
Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.
Rasulullah shalallahi alaihi wasallam ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.
3. Positive thinking
Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu manusia dalam mengatasi rasa galau yang sedang menghinggapinya. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk-bentuk kesukaran dan beban yang ada pada dalam diri menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala yang kesusahan-kesusahan yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya;
“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).
4. Dzikrullah (Mengingat Allah)
Orang yang senantiasa mengingat Allah Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa galau yang ada dalam diri bisa perlahan-perlahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.
...Bersabar, berpikir positif, ingat Allah dan mengadukan semua persoalan kepada-Nya adalah solusi segala persoalan...
Sebagaimana firman-Nya:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).
Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang di mana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa kegelisahan, galau, serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwa-Nya.
Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan galau, maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah Ta’ala. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau, karena sesungguhnya Allah bersama kita. [voa-islam.com]

Jangan Galau :).
Allah Bersama Kita !!



Zaman sekarang berbagai masalah makin kompleks. Entah itu komplikasi dari masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar, bingung karena ditinggal pergi oleh sang kekasih, ataupun masalah-masalah lain. Semuanya bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong, lemah atau merana.
“Galau!!” merupakan sebuah kata-kata yang sedang naik daun, di mana kata-kata itu menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Tak hanya laku di facebook atau twitter saja, bahkan di media televisi pun orang-orang seakan-akan dicekoki dengan kata-kata “galau” tersebut.
Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap insan.
...Jangankan kita manusia biasa, bahkan Rasulullah pun pernah mengalami keadaan keadaan galau pada tahun ke-10 masa kenabiannya...
Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang masyhur dengan ‘amul huzni (tahun duka cita) itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri yang sangat beliau sayangi, Khadijah bintu Khuwailid.
Sahabat Abu Bakar, ketika sedang perjalanan hijrah bersama Rasulullah pun di saat berada di dalam gua Tsur merasa sangat cemas dan khawatir dari kejaran kaum Musyrikin dalam perburuan mereka terhadap Rasulullah. Hingga turunlah surat At-Taubah ayat 40 yang menjadi penenang mereka berdua dari rasa kegalauan dan kesedihan yang berada pada jiwa dan pikiran mereka.
Jangan Galau, Innallaha Ma’ana!
Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami” (QS. At Taubah: 40)
Ayat di atas mungkin dapat menjadikan kita agar lebih merenungi lagi terhadap setiap masalah apapun yang kita hadapi. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan, maka hadapkanlah semua itu kepada Allah Ta’ala. Tak ada satupun manusia yang tak luput dari rasa sedih, tinggal bagaimana kita menghadapi kesedihan dan kegalauan tersebut.
...Allah telah memberikan solusi kepada manusia untuk mengatasi rasa galau yang sedang menghampiri jiwa...
Adakalanya, seseorang berada pada saat-saat yang menyenangkan, tetapi, ada pula kita akan berada pada posisi yang tidak kita harapkan. Semua itu sudah menjdai takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk makhluk-makhluk Nya.
Tetapi, Allah Ta’ala juga telah memberikan solusi-solusi kepada manusia tentang bagaimana cara mengatasi rasa galau atau rasa sedih yang sedang menghampiri jiwa. Karena dengan stabilnya jiwa, tentu setiap orang akan mampu bergerak dalam perkara-perkara positif, sehingga dapat membuat langkah-langkahnya menjadi lebih bermanfaat, terutama bagi dirinya lalu untuk orang lain.
Berikut ini adalah kunci dalam mengatasi rasa galau;
1. Sabar
Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).
Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi.
2. Adukanlah semua itu kepada Allah
Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:
“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).
...ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita...
Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.
Rasulullah shalallahi alaihi wasallam ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.
3. Positive thinking
Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu manusia dalam mengatasi rasa galau yang sedang menghinggapinya. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk-bentuk kesukaran dan beban yang ada pada dalam diri menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala yang kesusahan-kesusahan yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya;
“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).
4. Dzikrullah (Mengingat Allah)
Orang yang senantiasa mengingat Allah Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa galau yang ada dalam diri bisa perlahan-perlahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.
...Bersabar, berpikir positif, ingat Allah dan mengadukan semua persoalan kepada-Nya adalah solusi segala persoalan...
Sebagaimana firman-Nya:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).
Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang di mana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa kegelisahan, galau, serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwa-Nya.
Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan galau, maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah Ta’ala. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau, karena sesungguhnya Allah bersama kita. [voa-islam.com]
Baca SelengkapnyaJangan Galau :) Allah Bersama Kita :)

Aku Mencintaimu Karna Allah :* {}

Aku Mencintaimu Karna Allah :* {}

Mencintai karena Allah, Benarkah?
Tak bosan-bosanya saya membahas tema cinta. Selain banyak pelakunya tentu banyak juga korbanya karena ketidakpahamanya. Baiklah pasti teman-teman sering mendengar kalimat aku mencintaimu karena ALLAH. Betul? Benarkah kita mencintai karena Allah? Mari kita bahas sebenarnya apakah kita benar-benar mencintai karena Allah? Jangan-jangan kita berkata mencintai karena Allah tetapi sebenarnya tidak. Seperti yang dilakukan oleh Delisa kecil dalam Novel Hafalan Shalat Delisa yang mengatakan kepada uminya, “Umi, Delisa cinta umi karena Allah” padahal ia mengatakan itu karena ingin diberi cokelat oleh guru ngajinya.
Mencintai karena Allah berarti kita mencintai seseorang karena berlandaskan Allah. Karena kita berlandaskan kepada Allah maka kita mencintai apa yang diperintahkan oleh Allah kepada kita. Jika cinta kita karena Allah, hanya ingin mendapatkan Ridhlo-Nya maka Allahpun akan mencintai kita
“Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dengan menunggu-Ku dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku” (H.R. Muslim)
Dalam sebuah hadist qudsi juga disebutkan;
Allah swt berfirman, “pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta mencintai karena Aku, saling kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku”
Dalam kesempatan ini, pembahasan cinta difokuskan terhadap lawan jenis yang belum halal (belum kita nikahi ^_^)
Adapun beberapa ciri-ciri cinta karena Allah:
  1. Memilih mencintai seseorang karena Allah berarti ia memilih karena Allah, yaitu pilihlah agamanya.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Mungkin ada yang menyeletuk, Fatimah binti Muhammad, putri jelita Rasulullah pernah menolak lamaran sahabat-sahabat terbaik Rasulullah. Dia pernah menolak laki-laki yang baik agamanya. Bahkan tak hanya baik tapi sangat baik agama dan akhlaknya. Ya tentu kita boleh-boleh saja menolak. Pertanyaanya adalah apakah kita sudah sesholehah Fatimah Binti Muhammad yang pemahaman agamanya dan kesholehahnya langsung dibina oleh Rasulullah?  Tentu hadist tersebut dikelurkan oleh Rasulullah agar bisa menjadi pedoman bagi kita untuk memilih seseorang karena agamanya.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)
  1. Mencintai tak harus memiliki
Jika kita mencintai kemudian orang yang kita cintai ternyata tak membalas cinta kita apakah kita tidak akan menikah karena hanya ingin mencintai dirinya? Sungguh tentu tidak bukan? Karena kita mencintai dan kemudian menikahi karena ingin MENJAGA KEHORMATAN kita, betul? Jika Allah menjauhkan seseorang yang kita cintai, itu berarti Allah sedang mendekatkan kita kepada seseorang yang pantas kita cintai menurut-Nya. Maka janganlah kita bersedih .
La Takhaf Wa La Tahzan. Innallaha Ma’ana “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya Allah ada bersama kita”
“Tiga golongan yang Allah pasti akan menolong mereka: budak yang hendak menebus dirinya, seorang yang menikah dengan tujuan menjaga kehormatanya dari perkara-perkara yang diharamkan, dan seorang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. An-Nasa’i)
 Bagaimana jika ternyata wanita yang kita cintai meninggal apakah kita juga harus ikut meninggal bunuh diri seperti dalam kisah Romeo dan Juliet? Tentu tidak! Kita mencintai dengan cara yang Allah cinta juga. Bunuh diri bukankah sangat dilarang oleh agama? Tidak mungkin jika kita mencintai karena Allah tetapi kita sendiri melanggar ketentuan-ketentuan Allah.
Inilah doa Rosulullah saat ditinggal istrinya yang paling ia cintai untuk selamanya didunia ini; Khadijah.
“Ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta orang yang bermanfaat buat ku cintanya di sisi Mu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku di antara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan di antara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai.” (HR. Al-Tirmidi)
Lihatlah dalam doa kalimat terakhir diatas yang berbunyi “Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan di antara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untukku dalam segala hal yang Engkau cintai”. Arti dari doa tersebut adalah apa yang kita cintai mudah-mudahan menjadi kekuatan kita untuk mencintai hal lain yang Allah cintai dan ketika sesuatu yang kita cintai ternyata diambil oleh Allah maka jadikan hal tersebut menjadi kebebasan kita untuk mencintai hal-hal (sesorang atau sesuatu) lain yang juga Allah cintai. Jika seseorang yang kita cintai diambil oleh Allah maka jadikan ini sebagai kebebasan kita untuk mencintai seseorang lain yang lebih sholeh atau shoehah.
  1. Mencintai karena Allah berarti menjalankan segala perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.
1)     Tidak bersentuhan
Dari Ma’qil bin Yasar RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir). Dari Aisyah berkata: “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat.” (HR. Bukhari 4891)
2)     Tidak berdua-duan
Barangsiapa yang bermain pada Allah dan hari akhir maka hendaknya tidak berkhalwat (berdua-duan) dengan perempuan bukan mahram karena pihak ketiga adalah setan. (HR. Ahmad)
3)     Tidak berzina (mendekati zina saja jangan)
Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” (Q. S. Al Isra 32)


jika cintaku padamu karena nafsu,
maka campakkan aku dengan kata-kata terpahit  yang bisa kau ucapkan.

jika cintaku padamu menjauhkanku dari Allah,
maka hinakan aku dengan hinaan yang paling hina yang bisa kau lontarkan.

jika cintaku padamu , meninggalkan agamamu
maka tutuplah hatimu serapat mungkin.

 Namun.

Jika cintaku karena Allah,
Jika cintaku sebagai wujud pengabdianku pada Allah,
Jika cintaku untuk menjaga kehormatanku,
Jika cintaku karena ingin membawamu pada kedekatan dengan Allah,
Jika cintaku karena ingin menjadikan dirimu sebagai ibu bagi anak-anakku,

Jangan kau palingkan wajahmu,
Jangan kau tutupkan hatimu,
Jangan kau campakkan diriku,
Jangan kau sia-siakan aku,
Sesungguhnya Aku Mencintaimu Karena Allah.

Itulah beberapa hal yang mungkin perlu kita perhatikan jika kita meamang mencintai karena Allah. Karena Cinta bukan hanya sekedar kata, bukan hanya pertautan hati dan bukan hanya hasrat luapan jiwa (PADI). Kata Anis Matta Jika cinta kita karena Allah, maka cinta yang lain hanyalah bentuk pengejawantahan cinta kita kepada-Nya. mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat khususnya bagi saya pribadi dan bagi teman-teman yang sudah mau berkenan membaca. Terakhir semoga kita mencintai karena Allah. Aamiin.

Barakallahufiikum,  Semoga bermanfaat. Banyak senyum dan cinta ^_^

Aku Mencintaimu Karna Allah :* {}

Mencintai karena Allah, Benarkah?
Tak bosan-bosanya saya membahas tema cinta. Selain banyak pelakunya tentu banyak juga korbanya karena ketidakpahamanya. Baiklah pasti teman-teman sering mendengar kalimat aku mencintaimu karena ALLAH. Betul? Benarkah kita mencintai karena Allah? Mari kita bahas sebenarnya apakah kita benar-benar mencintai karena Allah? Jangan-jangan kita berkata mencintai karena Allah tetapi sebenarnya tidak. Seperti yang dilakukan oleh Delisa kecil dalam Novel Hafalan Shalat Delisa yang mengatakan kepada uminya, “Umi, Delisa cinta umi karena Allah” padahal ia mengatakan itu karena ingin diberi cokelat oleh guru ngajinya.
Mencintai karena Allah berarti kita mencintai seseorang karena berlandaskan Allah. Karena kita berlandaskan kepada Allah maka kita mencintai apa yang diperintahkan oleh Allah kepada kita. Jika cinta kita karena Allah, hanya ingin mendapatkan Ridhlo-Nya maka Allahpun akan mencintai kita
“Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dengan menunggu-Ku dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku” (H.R. Muslim)
Dalam sebuah hadist qudsi juga disebutkan;
Allah swt berfirman, “pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta mencintai karena Aku, saling kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku”
Dalam kesempatan ini, pembahasan cinta difokuskan terhadap lawan jenis yang belum halal (belum kita nikahi ^_^)
Adapun beberapa ciri-ciri cinta karena Allah:
  1. Memilih mencintai seseorang karena Allah berarti ia memilih karena Allah, yaitu pilihlah agamanya.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Mungkin ada yang menyeletuk, Fatimah binti Muhammad, putri jelita Rasulullah pernah menolak lamaran sahabat-sahabat terbaik Rasulullah. Dia pernah menolak laki-laki yang baik agamanya. Bahkan tak hanya baik tapi sangat baik agama dan akhlaknya. Ya tentu kita boleh-boleh saja menolak. Pertanyaanya adalah apakah kita sudah sesholehah Fatimah Binti Muhammad yang pemahaman agamanya dan kesholehahnya langsung dibina oleh Rasulullah?  Tentu hadist tersebut dikelurkan oleh Rasulullah agar bisa menjadi pedoman bagi kita untuk memilih seseorang karena agamanya.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)
  1. Mencintai tak harus memiliki
Jika kita mencintai kemudian orang yang kita cintai ternyata tak membalas cinta kita apakah kita tidak akan menikah karena hanya ingin mencintai dirinya? Sungguh tentu tidak bukan? Karena kita mencintai dan kemudian menikahi karena ingin MENJAGA KEHORMATAN kita, betul? Jika Allah menjauhkan seseorang yang kita cintai, itu berarti Allah sedang mendekatkan kita kepada seseorang yang pantas kita cintai menurut-Nya. Maka janganlah kita bersedih .
La Takhaf Wa La Tahzan. Innallaha Ma’ana “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya Allah ada bersama kita”
“Tiga golongan yang Allah pasti akan menolong mereka: budak yang hendak menebus dirinya, seorang yang menikah dengan tujuan menjaga kehormatanya dari perkara-perkara yang diharamkan, dan seorang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. An-Nasa’i)
 Bagaimana jika ternyata wanita yang kita cintai meninggal apakah kita juga harus ikut meninggal bunuh diri seperti dalam kisah Romeo dan Juliet? Tentu tidak! Kita mencintai dengan cara yang Allah cinta juga. Bunuh diri bukankah sangat dilarang oleh agama? Tidak mungkin jika kita mencintai karena Allah tetapi kita sendiri melanggar ketentuan-ketentuan Allah.
Inilah doa Rosulullah saat ditinggal istrinya yang paling ia cintai untuk selamanya didunia ini; Khadijah.
“Ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta orang yang bermanfaat buat ku cintanya di sisi Mu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku di antara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan di antara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai.” (HR. Al-Tirmidi)
Lihatlah dalam doa kalimat terakhir diatas yang berbunyi “Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan di antara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untukku dalam segala hal yang Engkau cintai”. Arti dari doa tersebut adalah apa yang kita cintai mudah-mudahan menjadi kekuatan kita untuk mencintai hal lain yang Allah cintai dan ketika sesuatu yang kita cintai ternyata diambil oleh Allah maka jadikan hal tersebut menjadi kebebasan kita untuk mencintai hal-hal (sesorang atau sesuatu) lain yang juga Allah cintai. Jika seseorang yang kita cintai diambil oleh Allah maka jadikan ini sebagai kebebasan kita untuk mencintai seseorang lain yang lebih sholeh atau shoehah.
  1. Mencintai karena Allah berarti menjalankan segala perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.
1)     Tidak bersentuhan
Dari Ma’qil bin Yasar RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir). Dari Aisyah berkata: “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat.” (HR. Bukhari 4891)
2)     Tidak berdua-duan
Barangsiapa yang bermain pada Allah dan hari akhir maka hendaknya tidak berkhalwat (berdua-duan) dengan perempuan bukan mahram karena pihak ketiga adalah setan. (HR. Ahmad)
3)     Tidak berzina (mendekati zina saja jangan)
Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” (Q. S. Al Isra 32)


jika cintaku padamu karena nafsu,
maka campakkan aku dengan kata-kata terpahit  yang bisa kau ucapkan.

jika cintaku padamu menjauhkanku dari Allah,
maka hinakan aku dengan hinaan yang paling hina yang bisa kau lontarkan.

jika cintaku padamu , meninggalkan agamamu
maka tutuplah hatimu serapat mungkin.

 Namun.

Jika cintaku karena Allah,
Jika cintaku sebagai wujud pengabdianku pada Allah,
Jika cintaku untuk menjaga kehormatanku,
Jika cintaku karena ingin membawamu pada kedekatan dengan Allah,
Jika cintaku karena ingin menjadikan dirimu sebagai ibu bagi anak-anakku,

Jangan kau palingkan wajahmu,
Jangan kau tutupkan hatimu,
Jangan kau campakkan diriku,
Jangan kau sia-siakan aku,
Sesungguhnya Aku Mencintaimu Karena Allah.

Itulah beberapa hal yang mungkin perlu kita perhatikan jika kita meamang mencintai karena Allah. Karena Cinta bukan hanya sekedar kata, bukan hanya pertautan hati dan bukan hanya hasrat luapan jiwa (PADI). Kata Anis Matta Jika cinta kita karena Allah, maka cinta yang lain hanyalah bentuk pengejawantahan cinta kita kepada-Nya. mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat khususnya bagi saya pribadi dan bagi teman-teman yang sudah mau berkenan membaca. Terakhir semoga kita mencintai karena Allah. Aamiin.

Barakallahufiikum,  Semoga bermanfaat. Banyak senyum dan cinta ^_^

Baca SelengkapnyaAku Mencintaimu Karna Allah :* {}

Senin, 11 Februari 2013

Kenapa Hari Valentine Haram?

Hukum Menyambut Hari Valentine
                        

            Sebagaimana yang telah termaktub di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah dan disepakati oleh generasi awal umat Islam hari kebesaran bagi umat Islam yang mana disyariatkan bagi kita menyambutnya hanyalah Hari Raya Aidilfitri dan Aidiladha. Ini sebagaimana yang firman Allah S.W.T.: “Bagi tiap-tiap umat, Kami adakan satu syariat yang tertentu untuk mereka ikuti dan jalankan, maka janganlah ahli-ahli syariat yang lain membantahmu dalam urusan syariatmu; dan serulah (wahai Muhammad) umat manusia kepada agama Tuhanmu, kerana sesungguhnya engkau adalah berada di atas jalan yang lurus.” (al-Hajj : 67)
Anas bin Malik r.a berkata: Nabi s.a.w pernah datang ke Madinah sedangkan penduduknya memiliki dua hari raya. Pada kedua-duanya mereka bermain-main (bergembira) di masa jahiliah. Lalu baginda bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua-duanya bagi kamu semua dengan dua hari yang lebih baik, iaitu hari raya Aidiladha dan Aidilfitri.” (Hadis riwayat al-Nasaai, no: 959)
            Hadis ini mengingatkan umat Islam agar hanya menyambut sesuatu sambutan yang selaras dengan Islam serta syariatnya. Sambutan yang tidak berdasarkan syariat, apatah lagi jika ia mendedahkan umat Islam kepada pembaziran, pergaulan bebas, amalan syirik serta khurafat, sememangnya dilarang oleh agama.
Nabi bersabda: “Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (Hadis riwayat Imam Abu Dawud, hadis no: 3512)
Sambutan Hari Valentine merangsang ke arah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan syarak seperti pergaulan bebas diantara lelaki dan perempuan, membuang masa dengan berpeleseran serta membazir wang dengan memberi hadiah yang mahal-mahal.
              Tidak dapat dinafikan pergaulan bebas ketika sambutan Hari Valentine ini membuka pintu perzinaan sedangkan Allah s.w.t. memerintahkan kita untuk menutup segala ruang yang boleh menyebabkan terjadinya perzinaan. Firman-Nya: “Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat (yang membawa kerosakan).” (al-Israa’ : 32)
Sebagaimana yang telah dilaporkan dalam akhbar Utusan Malaysia pada 10 Februari 2007, Pengasas Pusat  Kebahagiaan Wanita dan Remaja (Kewaja), Yahaya Mohamed Yusof telah menegaskan bahawa kes remaja hamil anak luar nikah meningkat pada akhir Februari dan awal Mac. Beliau berkata: “Sebahagian besar remaja yang ditempatkan di Kewaja mengadu mereka lupa diri ketika menyambut Hari Memperingati Kekasih atau Valentine’s Day. Mereka keluar berpasangan dan berpesta sehingga larut malam, kemudian mengambil pil khayal hingga tidak sedar terlanjur lalu hamil.” http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2007&dt=0210&pub=Utusan_Malaysia&sec=Dalam_Negeri&pg=dn_05.htm
          Oleh itu mereka mempopularkan sambutan Hari Valentine ini di negara-negara Islam dan menampakkan sambutannya sebagai satu perkara yang begitu romantis serta indah bagi pasangan-pasangan yang ingin membuktikan perasaan cinta mereka. Inilah sebenarnya sikap syaitan yang sentiasa berusaha untuk menyadur perbuatan maksiat agar kelihatan seperti satu perkara yang baik dan diamalkan oleh manusia tanpa rasa berdosa. Firman-Nya: “Iblis berkata: ‘Wahai Tuhanku! Kerana Engkau telah menjadikan daku sesat, (maka) demi sesungguhnya aku akan memperelokkan segala jenis maksiat kepada Adam dan zuriatnya di dunia ini, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali di antara zuriat-zuriat Adam itu hamba-hambaMu yang dibersihkan dari sebarang syirik.” (al-Hijr : 39-40)
Bersandarkan kepada hujah-hujah yang jelasa para ulama telah merumuskan bahawa sambutan Hari Valentine adalah HARAM bagi seluruh umat Islam. Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam Malaysia kali ke-71 yang bersidang pada 22 hingga 24 November 2005 memutuskan: “Bahawa amalan merayakan Valentine’s Day tidak pernah dianjurkan oleh Islam. Roh perayaan tersebut mempunyai unsur-unsur Kristian dan amalannya yang bercampur dengan perbuatan maksiat adalah bercanggah dan dilarang oleh Islam. Oleh itu amalan meraikan Hari Kekasih tidak digalakkan oleh agama Islam”.
Hukum Menyambut Hari Valentine
                        

            Sebagaimana yang telah termaktub di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah dan disepakati oleh generasi awal umat Islam hari kebesaran bagi umat Islam yang mana disyariatkan bagi kita menyambutnya hanyalah Hari Raya Aidilfitri dan Aidiladha. Ini sebagaimana yang firman Allah S.W.T.: “Bagi tiap-tiap umat, Kami adakan satu syariat yang tertentu untuk mereka ikuti dan jalankan, maka janganlah ahli-ahli syariat yang lain membantahmu dalam urusan syariatmu; dan serulah (wahai Muhammad) umat manusia kepada agama Tuhanmu, kerana sesungguhnya engkau adalah berada di atas jalan yang lurus.” (al-Hajj : 67)
Anas bin Malik r.a berkata: Nabi s.a.w pernah datang ke Madinah sedangkan penduduknya memiliki dua hari raya. Pada kedua-duanya mereka bermain-main (bergembira) di masa jahiliah. Lalu baginda bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua-duanya bagi kamu semua dengan dua hari yang lebih baik, iaitu hari raya Aidiladha dan Aidilfitri.” (Hadis riwayat al-Nasaai, no: 959)
            Hadis ini mengingatkan umat Islam agar hanya menyambut sesuatu sambutan yang selaras dengan Islam serta syariatnya. Sambutan yang tidak berdasarkan syariat, apatah lagi jika ia mendedahkan umat Islam kepada pembaziran, pergaulan bebas, amalan syirik serta khurafat, sememangnya dilarang oleh agama.
Nabi bersabda: “Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (Hadis riwayat Imam Abu Dawud, hadis no: 3512)
Sambutan Hari Valentine merangsang ke arah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan syarak seperti pergaulan bebas diantara lelaki dan perempuan, membuang masa dengan berpeleseran serta membazir wang dengan memberi hadiah yang mahal-mahal.
              Tidak dapat dinafikan pergaulan bebas ketika sambutan Hari Valentine ini membuka pintu perzinaan sedangkan Allah s.w.t. memerintahkan kita untuk menutup segala ruang yang boleh menyebabkan terjadinya perzinaan. Firman-Nya: “Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat (yang membawa kerosakan).” (al-Israa’ : 32)
Sebagaimana yang telah dilaporkan dalam akhbar Utusan Malaysia pada 10 Februari 2007, Pengasas Pusat  Kebahagiaan Wanita dan Remaja (Kewaja), Yahaya Mohamed Yusof telah menegaskan bahawa kes remaja hamil anak luar nikah meningkat pada akhir Februari dan awal Mac. Beliau berkata: “Sebahagian besar remaja yang ditempatkan di Kewaja mengadu mereka lupa diri ketika menyambut Hari Memperingati Kekasih atau Valentine’s Day. Mereka keluar berpasangan dan berpesta sehingga larut malam, kemudian mengambil pil khayal hingga tidak sedar terlanjur lalu hamil.” http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2007&dt=0210&pub=Utusan_Malaysia&sec=Dalam_Negeri&pg=dn_05.htm
          Oleh itu mereka mempopularkan sambutan Hari Valentine ini di negara-negara Islam dan menampakkan sambutannya sebagai satu perkara yang begitu romantis serta indah bagi pasangan-pasangan yang ingin membuktikan perasaan cinta mereka. Inilah sebenarnya sikap syaitan yang sentiasa berusaha untuk menyadur perbuatan maksiat agar kelihatan seperti satu perkara yang baik dan diamalkan oleh manusia tanpa rasa berdosa. Firman-Nya: “Iblis berkata: ‘Wahai Tuhanku! Kerana Engkau telah menjadikan daku sesat, (maka) demi sesungguhnya aku akan memperelokkan segala jenis maksiat kepada Adam dan zuriatnya di dunia ini, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali di antara zuriat-zuriat Adam itu hamba-hambaMu yang dibersihkan dari sebarang syirik.” (al-Hijr : 39-40)
Bersandarkan kepada hujah-hujah yang jelasa para ulama telah merumuskan bahawa sambutan Hari Valentine adalah HARAM bagi seluruh umat Islam. Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam Malaysia kali ke-71 yang bersidang pada 22 hingga 24 November 2005 memutuskan: “Bahawa amalan merayakan Valentine’s Day tidak pernah dianjurkan oleh Islam. Roh perayaan tersebut mempunyai unsur-unsur Kristian dan amalannya yang bercampur dengan perbuatan maksiat adalah bercanggah dan dilarang oleh Islam. Oleh itu amalan meraikan Hari Kekasih tidak digalakkan oleh agama Islam”.
Baca SelengkapnyaKenapa Hari Valentine Haram?